Kalsel
Perjuangan Bayi Nazhan Menuju Meja Operasi
MARABAHAN, suluhbanua.news – Tangis lirih seorang bayi memecah sunyi perjuangan panjang yang tak pernah ia pilih. M. Nazhan Qamil, bayi mungil berusia 4 bulan asal Kecamatan Bakumpai, Kabupaten Barito Kuala, kini tengah berada di ujung harapan berjuang melawan kelainan jantung bawaan yang setiap detiknya mengancam nyawanya.
Sejak awal, perjalanan Nazhan sudah penuh luka. Dari Puskesmas kecil di kampungnya, ia harus berpindah ke RS H. Abdul Aziz Marabahan. Namun takdir berkata lain, keterbatasan fasilitas membuatnya kembali dirujuk ke RS Ulin Banjarmasin. Di sanalah, vonis itu terasa seperti petir di siang bolong Nazhan harus segera menjalani operasi jantung di Jakarta, di Rumah Sakit Harapan Kita.
Bagi keluarga sederhana, kabar itu bukan hanya tentang kesehatan, tapi juga tentang harapan yang nyaris runtuh karena keterbatasan biaya. Di tengah kebingungan dan keputusasaan, bantuan dari Pemerintah Kabupaten Barito Kuala melalui Baznas menjadi satu-satunya pegangan agar Nazhan tetap bisa melanjutkan perjuangan hidupnya.
Keberangkatan ke Jakarta yang telah direncanakan rapi ternyata tak semudah yang dibayangkan. Pada 16 April 2026, tepat saat akan terbang pukul 12.00 WITA, kondisi Nazhan mendadak memburuk.
Napas kecilnya tersengal, sesak datang tanpa ampun. Di tengah keramaian bandara, suasana berubah menjadi kepanikan.
Perjalanan yang sudah di depan mata harus dihentikan. Waktu seolah berhenti, sementara kondisi Nazhan semakin mengkhawatirkan.
Rekomendasi dari KKP Bandara mengharuskan Nazhan mendapatkan penanganan lanjutan dari dokter spesialis serta dukungan oksigen berstandar khusus sebelum diizinkan terbang. Tanpa itu, perjalanan bisa menjadi taruhan nyawa.
Sore harinya, Nazhan kembali dibawa ke RS Siloam Banjarmasin. Tubuh kecil itu kembali terbaring lemah, berjuang menarik napas di tengah alat medis yang mengelilinginya. Ia belum sempat mengenal dunia, namun sudah harus menghadapi kerasnya ujian kehidupan.
Rencana pun disusun ulang. Maskapai dengan fasilitas oksigen standar disiapkan, demi memastikan keselamatan Nazhan dalam perjalanan menuju harapan terakhirnya.
Kepala Dinas Kesehatan Barito Kuala, Sugimin, menyampaikan bahwa tahap awal pengobatan di Jakarta akan berlangsung selama 10 hari, sebelum dilakukan evaluasi lanjutan.
Di balik semua upaya itu, tersimpan doa yang tak terhitung jumlahnya. Dari keluarga, tenaga medis, hingga masyarakat yang ikut merasakan pilu.
Nazhan mungkin belum mampu berkata apa-apa. Namun dari napasnya yang tersendat, dunia seolah diingatkan bahwa hidup adalah perjuangan, bahkan sejak detik pertama.
Kini, semua berharap satu keajaiban agar napas kecil itu tetap bertahan dan tidak pernah benar-benar padam. (adv/sbn).
