Kalsel
Musafir dan Perjalanan di Sebuah Persinggahan
Penulis : Al-Faqir Ihsan (Sambialaw)
TAPIN, suluhbanua.news – Empat hari meninggalkan Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, mungkin hanya sekejap dalam hitungan waktu. Namun bagi seorang musafir jurnalistik, perjalanan itu terasa jauh lebih panjang dari sekadar angka di kalender. Setiap kilometer yang dilalui seolah membuka lembar demi lembar pelajaran kehidupan yang tak tertulis di buku mana pun.
Dalam perjalanan pulang menuju kampung halaman usai menjalankan tugas dan silaturahmi di berbagai daerah, rombongan yang dipimpin CEO PT Barito Media Jaya Group, Sulaiman A.S., atau yang akrab disapa M. Jaya, menyempatkan diri berkunjung ke kediaman H. Sidik di Sungai Puting, Kecamatan Candi Laras Utama, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, Sabtu (16/5/2026) siang.
H. Sidik dikenal sebagai salah satu murid dari Tuan Guru Syarwani, Sohibul Majelis Mahabbaturrasul Kunjungan tersebut bukan sekadar singgah melepas lelah, melainkan menjadi momentum silaturahmi yang sarat dengan nilai persaudaraan dan pelajaran batin.
Namun perjalanan menuju lokasi tidaklah mudah. Rombongan sempat kesulitan menemukan alamat rumah yang dituju. Jalan-jalan perusahaan tambang yang bercabang membuat arah perjalanan beberapa kali membingungkan.
Melihat kondisi tersebut, Sulaiman A.S. langsung menghubungi H. Sidik melalui telepon. Dari seberang sambungan, petunjuk demi petunjuk diberikan hingga akhirnya rombongan mengetahui bahwa lokasi yang dimaksud berada di kawasan yang melewati sejumlah pos keamanan milik perusahaan tambang batu bara di bawah naungan PT Hasnur Group.
Menariknya, hampir seluruh petugas keamanan yang ditemui mengenal sosok H. Sidik. Nama pria sederhana itu rupanya begitu akrab di telinga para penjaga yang bertugas di kawasan tersebut.
Sesampainya di sebuah persimpangan jalan, rombongan disambut seorang lelaki berambut gondrong, mengenakan kaus sederhana dan bersarung. Dialah Kancil sapaan akrab H. Sidik yang telah menunggu kedatangan tamunya.
Senyumnya menyambut hangat, seolah menghapus lelah perjalanan panjang yang sejak pagi membayangi rombongan.
Memasuki rumah, suasana kekeluargaan langsung terasa. Berbagai hidangan telah tersaji rapi. Tidak ada kesan dibuat-buat, semuanya mengalir dalam kesederhanaan yang tulus. Ia tampak sibuk memastikan setiap tamu mendapatkan pelayanan terbaik.
“Setiap tamu yang datang sudah menjadi kebiasaan kami untuk dimuliakan. Kehadiran pian-pian ke sini seperti membawa keberkahan dan menghapus dosa-dosa kami,” ujar Kancil sapaan akrab H. Sidik sambil tersenyum.
Ungkapan itu mengingatkan pada ajaran Rasulullah SAW tentang pentingnya memuliakan tamu sebagai bagian dari kemuliaan akhlak seorang muslim.
Perbincangan pun berlangsung hangat. Tidak ada perdebatan ataupun adu argumentasi. Yang terjadi justru sebuah muzakarah, saling mengingatkan dalam suasana penuh kekeluargaan.
Di tengah pembicaraan, H. Sidik menyampaikan kalimat sederhana yang terdengar singkat, namun menyimpan makna mendalam.
“Jadilah diri sendiri, jangan jadi Bang Sulaiman,” ucap Kacil sapaan akrab H. Sidik sambil menatap disekelilingya.
Sekilas kalimat itu terdengar biasa. Namun bagi mereka yang memahami bahasa nasihat para pencari hikmah, ucapan tersebut mengandung pesan agar seseorang tidak kehilangan jati dirinya dan tetap berjalan sesuai jalan yang telah Allah tetapkan baginya.
Percakapan kemudian semakin cair ketika istri H. Sidik, Nida Oktaria Riyatul Jannah, ikut bergabung.
Dengan gaya bicara yang lugas dan ceplas-ceplos, ia justru menghadirkan suasana akrab yang penuh kehangatan. Di balik tutur katanya yang terdengar tegas, tersimpan pribadi yang ramah dan dermawan.
Pada kesempatan itu, Nida memperlihatkan sebuah gambar seorang lelaki yang menurutnya memiliki kemiripan dengan Sulaiman A.S., baik dari raut wajah, rambut maupun gaya berbicara.
“Sidin nih mirip banar lawan yang ada di gambar di HP ulun nih ,” ujarnya memperliatkan gambar sambil tersenyum.
Tak lama berselang, suasana berubah menjadi lebih hening ketika pembicaraan menyentuh persoalan makrifat dan pengenalan kepada Allah SWT.
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Nida menyampaikan pandangannya tentang betapa mudahnya jalan mengenal Sang Pencipta apabila dilakukan dengan ketulusan hati.
“Untuk mengenal Allah itu sangat mudah, bahkan lebih cepat daripada membalikkan telapak tangan,” tuturnya.
Kalimat singkat tersebut menghadirkan perenungan panjang bagi siapa saja yang mendengarnya. Sebuah pesan bahwa kedekatan dengan Allah sejatinya bukan perkara rumit, melainkan tentang keikhlasan dan kesungguhan hati dalam mencari-Nya.
Sebagai tali persaudaraan serta cendera mata, H. Sidik memberikan kenang-kenangan berupa satu bilah benda pusaka yang telah lama hilang. Anehnya, setelah kedatangan Sulaiman A.S., benda tersebut kembali ditemukan.
Peristiwa itu menjadi bahan perbincangan hangat di antara mereka yang hadir, seolah menambah warna tersendiri dalam pertemuan yang penuh hikmah tersebut.
Menjelang malam, mentari perlahan mulai condong ke barat. Sementara itu, perjalanan pulang menuju kampung halaman masih membentang cukup panjang. Setelah beberapa jam larut dalam suasana silaturahmi, mendengarkan petuah, bertukar pengalaman, dan menimba pelajaran kehidupan yang tak ternilai harganya, Sulaiman A.S. menyadari bahwa sudah saatnya melanjutkan perjalanan. Bagi seorang musafir, setiap pertemuan memiliki waktunya sendiri, dan setiap perpisahan selalu menyimpan harapan untuk dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik.
Sebelum beranjak meninggalkan kediaman H. Sidiq, Sulaiman A.S. terlebih dahulu memohon diri kepada tuan rumah. Dengan penuh hormat, ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan selama kunjungan tersebut.
“Dansanak kami pulang dulu. Ini bukan berarti memutus silaturahmi. Mudahan di lain waktu kita semua dipertemukan kembali. Karena kalau memutus silaturahmi, kami tentu tidak akan sampai ke sini. Mudahan kita semua saling mendoakan dan mendapat ridha Rasulullah SAW, karena kami ini bagaikan musafir yang tersesat dan sedang mencari jalan pulang,” ungkap Sulaiman yang akrab disapa M. Jaya.
Ucapan itu seakan menjadi penutup yang indah bagi sebuah pertemuan yang singkat namun penuh makna. Jabat tangan dan pelukan hangat mengiringi langkah kepulangan rombongan. Meski kendaraan kembali melaju meninggalkan Sungai Puting, berbagai nasihat, ketulusan pelayanan, serta pelajaran tentang persaudaraan yang didapat hari itu tetap tertinggal di dalam hati, menjadi bekal berharga dalam menapaki perjalanan hidup berikutnya.
Meski pertemuan itu baru berlangsung untuk kedua kalinya, suasana yang terbangun terasa seperti keluarga yang telah lama saling mengenal. Tidak ada sekat formalitas, tidak ada jarak yang membatasi. Yang hadir hanyalah kehangatan persaudaraan yang lahir dari kesamaan niat dan kecintaan kepada jalan kebaikan.
Bagi seorang musafir jurnalistik, perjalanan seperti ini menyimpan pelajaran yang jauh lebih berharga dibandingkan sekadar perpindahan dari satu daerah ke daerah lain.
Di balik debu jalanan, panjangnya perjalanan, dan rasa lelah yang menyertai, selalu ada hikmah yang menunggu untuk ditemukan. Ada pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, penghormatan kepada tamu, serta makna persaudaraan yang tidak dibatasi hubungan darah.
Sebab pada akhirnya, perjalanan bukan hanya tentang sampai di tujuan. Perjalanan adalah tentang bagaimana hati belajar memahami kehidupan, mengenali diri sendiri, dan menemukan jejak-jejak hikmah yang Allah hamparkan di setiap langkah manusia. (***)
