Connect with us

Kalsel

Perjalanan Safari Spritual Menuju Majelis Allam Larut

Published

on

Penulis : (Al-Faqir) Ihsan

MARABAHAN, suluhbanua.news- Gerimis tipis yang membasahi kawasan Handil Pinang, Desa Sungai Lumbah, Kecamatan Alalak, Sabtu malam (2/5/2026), menghadirkan suasana yang tenang sekaligus syahdu.

Di tengah jalanan yang mulai sepi dan minim aktivitas, rombongan dari PT Barito Media Jaya Group memulai perjalanan menuju Majelis Sholawat dan Zikir “Allam Larut” di Desa Samuda, Kecamatan Belawang, Kabupaten Barito Kuala.

Perjalanan dilakukan secara sederhana tanpa iring-iringan mencolok. Kendaraan rombongan melaju perlahan melewati jalan gelap dengan penerangan terbatas. Deretan pepohonan di sisi jalan semakin menambah nuansa sunyi malam itu, namun tidak sedikit pun mengurangi semangat para peserta untuk menghadiri majelis yang dikenal sarat nilai spiritual tersebut.

Nama “Allam Larut” sendiri memiliki makna mendalam, yakni “Aku Lahir Lantaran Abah Mama, Larut Aku di Dalam Roh Ketuhanan”, sebuah filosofi yang menggambarkan perjalanan batin manusia dalam mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Sesampainya di lokasi, rombongan yang dipimpin Sulaiman langsung disambut hangat oleh pimpinan majelis, Ustaz Syarwani, beserta para jamaah yang telah lebih dahulu hadir. Kehangatan dan suasana kekeluargaan terasa begitu kuat, seolah menghapus dinginnya perjalanan malam.

Dalam kesempatan itu, Sulaiman menjelaskan bahwa dirinya memilih hadir lebih awal karena tidak dapat mengikuti agenda utama pada hari berikutnya.

“Besok ulun tidak sempat hadir, jadi malam ini ulun menyempatkan datang,” ucapnya singkat.

Sementara itu, Ustaz Syarwani mengenang sosok Sulaiman yang dahulu dikenal dengan nama M. Jaya. Menurutnya, meski tampil sederhana pada masa lalu, sosok tersebut dikenal memiliki perhatian besar terhadap kegiatan keagamaan dan jamaah majelis.

“Beliau termasuk orang yang ringan tangan membantu. Kegiatan majelis sering mendapat dukungan, bahkan jamaah juga pernah dibantu beras,” tutur Syarwani.

Ia juga menegaskan bahwa nilai seseorang bukan dilihat dari penampilan luar, melainkan dari akhlak dan kepedulian yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pertemuan tersebut, Sulaiman turut mengungkapkan bahwa dirinya kini telah mengganti nama sebagai bagian dari perjalanan hidup dan spiritual yang dijalaninya.

“Nama ulun sudah diganti dan diberi gelar oleh abah angkat di Kalua,” ungkapnya.

Acara malam itu turut dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, salah satunya Anang Rapel (64), mantan Kepala Desa Sungai Seluang yang pernah memimpin desa tersebut selama dua periode.

Selain menghadiri undangan walimatul urus keluarga pimpinan majelis yang akan digelar keesokan harinya, momen tersebut juga dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi dan diskusi keagamaan.

Pembicaraan yang awalnya santai perlahan berkembang menjadi diskusi mendalam tentang ilmu ma’rifat. Dengan ditemani kopi hangat dan hidangan sederhana, suasana berlangsung penuh kekhidmatan hingga larut malam.

Usai kegiatan di Desa Samuda, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju Desa Sungai Rutas, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin. Perjalanan itu kemudian berakhir di Masjid Keramat Baitun Nur yang menjadi tempat persinggahan sekaligus lokasi beristirahat.
Meski tubuh terasa lelah setelah perjalanan panjang, semangat kebersamaan dan nuansa spiritual tetap menyelimuti rombongan hingga malam berakhir.

Perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan sebuah pengalaman batin yang mempererat persaudaraan, menumbuhkan ketenangan jiwa, serta menghadirkan makna mendalam di balik sunyinya malam. (***)