Langsung ke konten
Banner
Terbaru
Kalsel

Ketika Seorang Pemimpin Sakit, Keluarga Besar Barito Media Jaya Turut Merasakan

Oleh Ikhsan · 4 Juli 2026 · 4 menit baca · 2 views
Ketika Seorang Pemimpin Sakit, Keluarga Besar Barito Media Jaya Turut Merasakan

Oleh : Al-Faqir Ihsan (Sambialaw)

MARABAHAN, suluhbanua.news – Malam itu, keheningan seolah memiliki suara. Angin dingin yang menyelimuti Sabtu (4/7/2026) berembus perlahan, menemani perjalanan yang bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perjalanan yang dipenuhi doa, harapan, dan rasa hormat.

Dari markas Komplek Batola Residence Blok H, Site III Nomor 17, RT 12 Handil Pinang II, Desa Sungai Lumbah Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, sebuah mobil melaju membelah jalanan menuju Marabahan. Lampu-lampu kendaraan memecah gelap malam, sementara di dalam mobil tak banyak percakapan. Masing-masing larut dalam doa dan harapan yang sama.

Tujuan perjalanan itu adalah sebuah rumah sederhana di Gang Swarga, Jalan Jendral Sudirman, RT 4A RW 01. Di sanalah tinggal seorang tukang urut yang dikenal masyarakat sebagai Amang Wahid.

Namun, malam itu bukan Amang Wahid yang menjadi tujuan utama. Di rumah itulah Sulaiman sapaan akrab M. Jaya AS, Founder PT Barito Media Jaya Group, menjalani masa pemulihan setelah mengalami gejala stroke.

Perjalanan terasa lebih panjang dari biasanya. Bukan karena jarak yang jauh, melainkan karena hati dipenuhi kegelisahan. Setiap kilometer yang dilalui menghadirkan kenangan tentang sosok pemimpin yang selama ini dikenal tak pernah lelah memberi arahan, motivasi, dan semangat kepada orang-orang di sekelilingnya.

Jalanan yang lengang seakan menjadi saksi bisu sebuah perjalanan penuh makna. Sesekali kendaraan melintas, memecah sunyi yang sejak awal mengiringi langkah rombongan. Malam terasa begitu khidmat, seolah alam ikut larut dalam harapan agar sang pemimpin segera pulih.

Perjalanan itu pun sempat diwarnai kebingungan. Rombongan beberapa kali harus berhenti untuk bertanya kepada warga sekitar karena belum menemukan alamat yang dituju. Namun, setelah melewati beberapa gang dan mendapat petunjuk dari masyarakat, rumah yang dicari akhirnya ditemukan.

Sesampainya di sana, rasa lelah sepanjang perjalanan seakan lenyap begitu saja. Kehangatan langsung menyambut kedatangan rombongan.

Di tengah ujian yang sedang dihadapi, Sulaiman tetap memperlihatkan ketegaran. Senyum masih menghiasi wajah pria berusia 44 tahun itu saat menyambut tamu yang datang menjenguk. Keramahan yang selama ini menjadi ciri khasnya tak sedikit pun memudar.

Di sampingnya, sang istri dengan mata yang menyimpan harapan menceritakan kondisi suaminya.

“Kalau ada tamu datang, beliau seperti tidak merasakan sakit. Tetapi ketika hanya di rumah, sakitnya kembali terasa,” tuturnya lirih.

Ucapan itu menggambarkan pribadi Sulaiman yang selama ini dikenal selalu memuliakan tamu. Bahkan ketika tubuhnya sedang berjuang melawan sakit, ia tetap berusaha menyambut setiap orang dengan senyum dan keramahan. Sebuah ketulusan yang lahir dari hati.

Suasana haru semakin terasa ketika doa-doa terus dipanjatkan. Salah satunya datang dari Kepala Biro Murung Raya, Ahmad Aswadi, yang mengaku ikut merasakan kesedihan atas kondisi pemimpin yang selama ini menjadi panutan.

“Apabila bos kita sakit, anak buahnya juga merasakan sakit,” ucap burung hut-hut sapaan akrab Aswadi melalui sambungan Watshap.

Kalimat singkat itu menggambarkan hubungan yang selama ini terjalin di lingkungan Barito Media Jaya Group. Hubungan yang tidak hanya dibangun atas dasar pekerjaan, tetapi juga rasa kekeluargaan yang tumbuh dari kepedulian, kebersamaan, dan saling menghargai.

Bagi mereka, Sulaiman bukan sekadar seorang pemimpin perusahaan. Ia adalah sosok yang selalu hadir memberi motivasi, membuka jalan bagi banyak orang untuk berkembang, dan menanamkan semangat agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi kehidupan.

Malam pun terus berjalan. Waktu seakan melambat di rumah sederhana itu. Percakapan, doa, dan harapan berpadu menjadi penguat bagi seseorang yang kini tengah berjuang memulihkan kesehatannya.

Perjalanan menuju Marabahan akhirnya memberi satu pelajaran berharga. Bahwa kepemimpinan sejati bukan diukur dari jabatan yang disandang, melainkan dari jejak kebaikan yang ditinggalkan di hati banyak orang.

Sebab ketika seorang pemimpin jatuh sakit, bukan hanya keluarganya yang bersedih. Orang-orang yang pernah dibimbing, dibantu, dan dimotivasinya pun ikut merasakan luka yang sama.

Semoga setiap doa yang dipanjatkan keluarga, sahabat, dan seluruh rekan di Barito Media Jaya Group menjadi kekuatan bagi Sulaiman untuk segera pulih, kembali sehat, kembali memimpin, dan kembali menebarkan semangat bagi mereka yang selama ini berjalan bersama di bawah naungan perjuangannya. (***).

Bagikan:
Pedoman Media Siber | Redaksi | SOP Perlindungan Wartawan | Kode Etik Jurnalistik | Kode Etik Internal Perusahaan | Kode Etik Perilaku Perusahaan Pers| Kode Etik Perilaku Wartawan | Jenjang Karier Kewartawanan| Peraturan Perusahaan Pers | Pedoman Pemberitaan Ramah Anak